Skip to main content

Posts

Berkunjung Ke Perahu Sarimuna

Recent posts

Sapi-sapi yang Berlayar Dari Madura Menuju Kalimantan

Selalu ada celah untuk mensyukuri apa-apa yang sedang terjadi. Sabtu, 9 Januari 2021, dihadapkan dengan keputusan bahwa pelaksanaan wisuda diundur sekitar 3 bulan lagi. Di tengah semaraknya "Yang Muda Yang Kaya" hadir disekeliling saya, nasib seakan semakin amburadul menerima kenyataan. Mau memulai usaha bingung entah harus mengawali langkah darimana, saat yang lain sudah mempunyai omset hingga puluhan juta perbulannya. Memutuskan untuk melamar pekerjaan setengah mati memikirkan CV yang sudah kemana-mana melayangnya.  Sudah menumpuk-numpuk nekat akan berpasrah pada Tuhan untuk melaju ke sebuah kota dengan sejuta harapan, namun harus buyar dibenturkan dengan kondisi pandemi yang belum juga usai. Oke... Sepertinya hari ini saya memang ditakdirkan untuk membersamai rasa 'khawatir' dan 'sok tau' akan masa depan.  Sabtu Pagi, 9 Januari 2021, semalam sudah menghabiskan kegelisahan di tanah Tanjung Bumi lebih spesifik lagi Bumi Anyar namanya. Silaturahmi

Jangan Lupa Kulitnya!

"Banyak teman itu penting, mereka adalah salah satu jendela buat mengintip ilmu yang mungkin belum kita punya."  Saking kudetnya saya, 2020 kemarin saya baru mendengar istilah "Kulit buah ini bisa menyuburkan loh buat tanaman." Pernyataan itu keluar dari mulut teman saya, beberapa saat setelah menyuguhkan buah jeruk dan juga pisang dihadapan saya.  Apa iya itu beneran?  Tertarik untuk mencari tau tentang pernyataan itu, saya coba berselancar via internet dengan membaca beberapa referensi yang terkait dengan hal tersebut. Kulit buah ternyata memang memiliki peran penting untuk kesuburan suatu tanaman, semisal kulit pisang. Seperti yang ditulis pada halaman kontan.co.id  bahwa d i dalam kulit pisang terkandung berbagai nutrisi, termasuk kalium dan juga fosfor. L anjutnya, menurut penelitian  Cape Gazette, "untuk berkebun, kulit pisang ini sangat cocok karena mengandung 42% kalium juga kulit pisang memiliki sumber kalium organik tertinggi.  Kal

Gelas Kayu Ular. Apa Iya Bisa Meningkatkan Stamina Bercinta?

Selamat datang di 2021. Catatan pertama di tahun ini, semoga semakin baik dalam melakukan segala hal dan semakin sayang dengan kehidupan.  Hari Kamis, 31 Desember kemarin, adalah hari terakhir di 2020, dan sekaligus menjadi hari perkenalan saya dengan yang disebut Kayu Ular. Kayu yang katanya berasal dari tanah Papua, yang dibawa oleh seorang Bapak tua dengan tas ransel yang juga berisi minyak urut obat sakit pegal-pegal dan sejenisnya. Rasa capek yang terlihat dari raut wajah, sembari menawarkan barang jualannya, berupa minyak berwarna putih dengan bau yang belum pernah saya cium sebelumnya. Saya tertuju pada gelas unik yang tidak ia tawarkan namun juga dikeluarkan dari tas ranselnya.  Dengan niatan membeli rasa capeknya, mengurangi sedikit beban biaya ongkos pulangnya, saya membeli Gelas kayu yang katanya terbuat dari Kayu Ular dari Papua. Pikiran langsung bertanya-tanya karena belum pernah sebelumnya melihat yang seperti ini.  Setelah membeli Gelas Kayu Ular dan mendengarkan deskrip

The First Time! Lidahku Kesenengan Makan Telo Madu

Ada yang berbeda di akhir tahun ini, biasanya saya dipertemukan dengan bunyi petasan, bakar-bakar daging ikan, sosis juga suara teman yang bersorakan menyambut tahun baru. Tetapi, 2020 akhir ini saya dipertemukan dengan salah satu makanan legenda yang seharusnya sudah saya temukan sejak dulu-dulu. Telo Madu namanya. Penasaran dengan nama juga warnanya. Jika biasanya saya temui makanan umbi-umbian sejenis telo ini warnanya putih dan juga ungu, kali ini saya mendapatinya dengan warna yang unik dan berbeda dari biasanya. Jingga dengan rasa yang cukup manis setelah melalui proses perebusan.  Ternyata oh ternyata... Karena saya penasaran dengan Telo Madu yang merupakan jenis umbi-umbian ini, saya mencoba riset sedikit sejarah dan manfaat dari Telo Madu ini. Dikutip dari halaman aremafood.com bahwasanya Telo Madu ini sebutan lain dari Ubi Cilembu. Dimana Ubi Cilembu ini hadir dari tanah Kecamatan Pamulihan, Sumedang, Jawa Barat. Katanya Telo Madu membutuhkan tempat yang pas dan t

Januari, Februari, Pandemi...

Januari, Februari, Pandemi... kisah yang terbilang singkat bagi saya sebagai seorang pelajar yang diharuskan pulang ke kampung halaman. Wabah corona adalah faktor utama penyebab menipisnya kantong dan juga penekanan-penenakan hidup di kota rantau. Januari, Februari, Pandemi... Kampung halaman bukanlah hal buruk bagi setiap kepulangan, bagi para perantau terutama seperti saya yang belum 'dirasa' berhasil ini. Ketika cita harus ditunda dulu pengejarannya, bukan berarti langkah harus mundur dan terdiam saja.  Januari, Februari, Pandemi... Rindu adalah salah satu hal yang mungkin puas merasakan moment ini. Ia terpenuhi hasratnya, untuk bertemu juga berdekap hangat dengan muaranya. Keluarga! Betul...  Hari ini memang tak bisa sekencang 'kemarin' larinya. Kaki tertahan oleh keadaan yang mengharuskan di rumah saja. Meski tak sedikit orang yang paham bahwa untuk melanjutkan hidup yang dibutuhkan adalah income baik dari alam juga pekerjaan.  Januari, Februari, Pandemi... Sesingk

Rujak Tujuh Bulanan, Tradisi Jawa

Eits... Balik kampung langsung diajak sepupu untuk menghadiri acaranya. 7 bulanan istrinya yang hamil. Mungkin dari kecil saya atau orang-orang yang dibesarkan dengan tradisi jawa sudah tidak asing lagi dengan yang namanya Pemandian Seorang Ibu hamil ketika berusia 7 bulan kandungannya. Gak herankan??? Dari ritual ini, hal yang paling unik ada satu makanan yang menjadi salah satu icon dan mungkin tidak akan ditemukan di acara lainnya. Rujak 7 Bulanan.  Dikutip dalam halaman food.detik.com - Dalam budaya Jawa, rujak menjadi salah satu suguhan dalam upacara kehamilan 7 bulan atau disebut Tingkeban atau Mitoni. Upacara ini dilakukan sebagai simbol ucapan syukur pada Tuhan untuk keselamatan calon orang tua dan bayi. Dilaksanakan saat calon ibu memasuki usia kehamilan 7 bulan. Terdapat beberapa ritual yang dilakukan saat Mitoni seperti siraman, pendandanan, dan angreman. Tiap ritual melambangkan harapan positif terhadap keselamatan ibu dan bayi kelak. Setiap daerah mungkin memil