Skip to main content

Mengecat Masa Lalu

Alhamdulillah...
Akhirnya selesai juga ! 
Hari ini adalah hari kedua dan sekaligus hari terakhir bagiku menjadi tukang cat. Berbeda dengan hari selasa kemarin, karna hari ini lebih terkonsep dan strateginya cukup lebih baik dari pada hari selasa kemarin. Jadi rasa capek tak begitu memuncak seperti waktu itu.

Jadi gini pas hari selasa kemarin.
Agak bingung ini mau mulai dari mana yang nulis.
Terkapar !
Iya jadi pas selasa malam atau pas malam rabu, aku lagi terkapar di atas kasur. Seharian mencoba baik-baik saja walau kenyataannya cukup melelahkan. dari lutut sampai ujung jari kaki seakan cenat cenut. " Sm*sh kali, pake acara cenat cenut segala " . Kue bulat ada lubang yang masuk kategori kecil di bagian tengahnya, bisa juga di katakan kue Donat, yang berhasil mengikis sedikit rasa lelahku di selasa malam itu. Gak banyak ya, karna dari lutut ke bawah masih saja cenat cenut. " Nyut nyut nyut ! Gitu ya mungkin kalau bunyi " , Oke, jadi gini kronologis kejadiannya, kenapa bisa kayak gitu ! Jadwal hari selasa kemarin memang cukup di bilang extrim , " hahahaa ...lebbuuaayyy " , dimana aku harus menjadi tukang cat " bukan kucing ya " , Iya gitu ! Dengerin musik dari hape yang tidak jauh dari keberadaanku. Di selangi dengan bunyi nada yang berdurasi tak begitu lama, musik itu pun sekejap reda. Pertanda ada message yang masuk. " Mayuh mangkat ", begitulah isi pesan yang ku baca, iya itu pesan tertulis dalam bahasa Madura, kalau di artikan dalam bahasa Indonesia begini " Ayo berangkat ". Iya gitu ! Jadi ini adalah kode dari teman aku yang mendadak jadi komando untuk urusan yang satu ini.

Dia Aan, yang bertugas sebagai komando sekaligus pengatur jalannya lajur keuangan. Kami semua, sekawanan anak kelas XII memasrahkan jabatan itu kepadanya, iya karna hanya dia yang mau untuk menjadi yang begituan . Hehehee :-).
Namanya Asro, dia temanku yang bertugas sebagai pengatur strategi. Iya karna dia yang lebih tau tentang keadaan gedung dan apa saja yang di butuhkan untuk hal yang satu ini. Ada 15 orang pada waktu itu yang datang dan bertugas jadi tukang cat, si Aan dan Asro juga masuk dalam hitungan. Pada hari selasa kemarin, karna masih hari pertama dan memang masih belum tau ini dan itunya. Jadi jika di bandingkan dengan hari sekarang jauh lebih buruk hari itu. Iya gitu !

Sekitar jam tujuh lewat, karna kebutuhan pengecatan masih benar-benar gak ada. Asro mengajakku untuk membeli bahan-bahan untuk mengecat. Hari selasa memang identik dengan pasar tumpah di daerah Galis, banyak orang memadati setiap lorong-lorong jalan di setiap sisi pasar. " ini kita mau beli apaan? ", tanyaku pada Asro. " Kapor gempen " , jawab si Asro membelakangiku, iya karna pada waktu itu aku membuntuti Asro sambil berjalan menuju kedalam pasar, karna asro memang lebih berpengalaman dalam hal ini. Kapor gempen itu semacam kapur untuk di jadikan bahan utama pengecatan.  Asro pun sesekali menolehkan kepalanya kebelakang, ku lihat keringat menetes dari dahinya. " masih jauh gak as? " , tanyaku sambil berjalan di antara himpitan orang-orang yang tak beraturan arah jalannya, " Itu penjualnya udah kelihatan " , jawab Asro.

Di antara beberapa penjual, pilihan kami jatuh pada seorang ibu yang duduknya menghadap ke arah barat. Terdapat wadah, ku lihat berisi kapor gempen di dalamnya. Berusaha merayunya, si Asro bertatap muka denganya, " Ciiee ciieeeee " , sambil saut sautan, ku dengar Asro menawar kapor gempen itu. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya sekarung kapor gempen berhasil kami beli dengan harga yang cukup di bilang murah, " bisa juga nih si Asro " , bisikku dalam hati.

Ini lebih rumit dari pada yang tadi pas mau masuk. Sambil membawa karung kami harus berdesakan menuju keluar dari pasar. Bisa kebayangkan gimana yang namanya pasar, udah tanahnya becek, ramenya ya amsiyong. Hape yang berada di kantong celanaku beberapa kali berbunyi, dengan sedikit memaksakan keadaan, aku mencoba mengecek hape tersebut. Ku lihat ada 2 message masuk. Tak sempat ku baca ada panggilan masuk dengan nama Aan, " halo " , kataku sambil berjalan begitu pelannya. Dalam bahasa Madura ,
" Kalian udah ada dimana, cepetan ! " , Kata Aan dengan nada yang tak biasa.
" ini lagi di dalam pasar " .
" Lama banget kalian " .
"  iya sabar, kami lagi berjuang agar cepat sampai ", jawabku via telephone sambil berkata pada asro " nih si aan suruh kita cepetan ". " Mungkin dia gak tau kali ya, gimana keadaan kita sekarang " , jawab asro yang kali ini berada di belakangku.

Tanpa suara, ku lihat ke layar hape, panggilan sudah berakhir begitu saja.
Setelah kaki ku berlumuran lumpur, entah kaki si asro sudah berwujud seperti apa, akhirnya kami sampai di tetepian jalan raya dengan keringat yang menjadi saksi buta perjuangan kami. Asro mulai bergegas mengambil motor yang sedang berada di parkiran, sedangkan aku menuggu di tetepian jalan dengan sekarung kapor gempen, kelihatannya agak kurang serasi antara aku dan karung itu. Iya karna tinggi karung itu setara dengan lututku. Beberapa kali ku tengok ke arah timur, hingga asro mendekat dengan motor yang berwarna hitam.

Kami segera kembali, dengan menyempatkan membeli lem yang memang khusus untuk di campur dengan kapor gempen di salah satu toko yang memang tak mengubah arah kami untuk menuju kembali ke tempat dimana Aan dan kawan-kawan sudah menunggu kami.

Akhirnya sampai juga ...
Tapi ini bukan akhir dari segalanya, ini baru awal dari segala proses pengecatan ini. Setelah membeli bahan untuk mengecat, sekarang kami semua, para tukang cat dadakan harus memindahkan semua aksesoris yang ada di rumah yang akan kami cat. Mulai dari hiasan yang kecil, seperti pernak pernik rumah, foto-foto yang terkurung dalam figora yang terpasang di tembok, rak sepatu, pot bunga , gorden, dan lain semacamnya. Hingga yang ukurannya besar, seperti sofa, kursi , lemari, televisi dan yang lainnya harus kami pindah. Jendela dan pintu gak masuk dalam proses pemindahan.Hahahaha....

Setelah proses pemindahan selesai, sekarang saatnya proses bersih-bersih. Dimana debu-debu yang menempel di tembok dan atap rumah harus kami bersihkan, agar pas di cat warnanya tak bercampur dengan debu tersebut.
Setelah keadaan rumah mendukung untuk di cat, kami mulai bekerja.
Adonan cat pun mulai di buat, beberapa kuas sudah menanti. Karna atapnya tinggi, beberapa pijakan mulai kami ambil untuk membantu lancarnya proses pengecatan,.
Dan semua bahan dan perlengkapan sudah siap, sekarang adalah inti dari kesemuanya, yakni proses pengecatan.

Kami membagi tugas, beberapa orang mengecat di ruangan pertama, beberapa orang lagi mengecat di ruangan yang lain. Iya gitu ! Tapi, ada sebagian pekerja yang nganggur, karna waktu itu memang hari pertama. Jadi konsep atau perencanaannya masih belum matang seperti di hari kedua. Ini masalah kuas, sebagian pekerja " aku sebut pekerja untuk kali ini " , gak kebagiaan kuas, jadi setelah beberapa jam nganggur, akhirnya ada beberapa pekerja yang memberikan usulan untuk membeli kuas lagi.

Aan mulai mempertimbangkan usulan ini, karna uang persediaan sudah terkuras banyak, sedangkan keperluan untuk besok dan lusa masih membutuhkan dana yang lumayan. " Emang kuas berapaan harganya ? ". Akhirnya usulan itupun terlaksana, yah meski masih banyak pertimbangan tadinya.  Kali ini aku dan Zigan yang mempunyai tugas untuk membeli beberapa kuas, Zigan adalah salah satu sahabatku yang kali ini berbonceng di belakangku. Sebelum berangkat, ada salah satu teman kami yang memberi saran pada kami , " beli kuasnya di toko sebelah barat ya, disana harganya lebih murah " , katanya. " Oh " , jawabku, sementara Zigan menganggukkan kepalanya. Seperti biasa, motor berbodi aneh yang masih setia menemaniku. Kami bergerak menuju pelabuhan itu, eh toko itu. Sesampainya di sana, si Zigan berjalan menuju toko tersebut, sedangkan aku menunggu di luar masih bersama motorku yang berbodi aneh. Sambil memegang plastik hitam, Zigan tersenyum-senyum sendiri berjalan menuju ke arahku.
" Kenapa gan? Kuasnya adakan? ", tanyaku.
" iya ini ada " .
" terus kenapa kamu cengar-cengir gitu? "
" ini harganya lebih mahal dari  toko yang di sebelah timur " .
" Lah , berarti ..." Sebelum omonganku selesai, zigan memotong perkataanku, " hahaha...iya tenang, aku belinya cuma satu, entar beli di toko sebelah timur lagi ! Jadi uangnya gak terlalu banyak habisnya, aku kan anak pintar ". Katanya, seolah dia adalah orang yang sangat pinter !.
" Iya iya " .

Kami mutar balik, dan berhenti di toko yang di sebelah timur. Beberapa kuas sudah terkumpul. Dengan dua buah plastik yang masing-masing berisikan kuas,kami kembali. Dan kamipun mendarat dengan selamat, si Zigan pun mulai bercerita tentang peristiwa yang tadi menimpa aku dan dirinya. Lalu kami, semua pekerja mulai mengecat. Ini terasa lebih cepat dari beberapa jam yang lalu, karna tak ada yang menganggur. Tapi jarum jam sudah mengarah pada angka 1 lewat. Itu pertanda kami harus istirahat. Jadi proses pengecatan terhenti.
Semua pekerja di perbolehkan istirahat dan pulang untuk sementara, dan harus kembali untuk melanjutkan proses pengecatan. Berhubung aku sudah terlanjur ada janji main futsal sama tim futsalku, jadi aku ijin pada semua pekerja untuk tak kembali di sore nanti.

Meski kaki seakan mau menjerit. Tapi aku harus bermain futsal karna sudah terlanjur ada perjanjian. Seusai solat, aku berangkat menuju Galis. Bukan untuk membeli kapor gempen, tapi untuk bermain futsal. Di lapangan futsal ku lihat permainan sudah di mulai. Secepat mungkin aku memakai selop kaki dan sepatu futsalku. Sampai-sampai aku gak sadar mana selop kaki yang kiri dan yang kanan. " tapi sepatu enggak kan?".
Futsal adalah permainan olahraga yang sangat aku gemari. Jadi aku terkadang merasa begitu cepat bel pertanda permainan futsal sudah usai di bunyikan. 1 jam berlalu, permainan selesai. Dan kamipun pulang. Dengan keringat di sekujur tubuh, aku pulang dengan sedikit rasa nyut-nyut di betis. Hingga tiba di rumah dengan motor berbodi aneh, aku langsung mandi dan istirahat.
Keadaan mulai petang, iya gitu ! Adzan sudah di kumandangkan. Dengan Terseok-seok, aku berjalan menuju kamar mandi. Setelah melaksanakan solat, aku sudah tak sadarkan diri di atas kasur. Iya aku tidur .....hadeh ... !

Jadi gitu kejadiannya !
Untuk mengecat itu butuh perjuangan, apalagi baru pertama kali. Konsep belum ada, strategi apalagi. Jadi semua harus di persiapkan terlebih dahulu
Gak jauh bedalah sama Mengecat Masa Lalu. Kita harus persiapkan dulu segala sesuatunya. Mulai dari mental, siap menghapus kenangan yang sudah berdebu. Dan jangan lupa untuk sempatkan menghibur diri dengan sesuatu yang kita sukai. Iya gitu !

Comments

  1. Iyah gituh emang. Masa lalu adalah hal yg harus kita cet. Jika ivarat buku. Kita tak akan selesai membaca jika tak bisa membuka halaman baru dan hanya berputar2saja di halaman yg mumgkin sampai saat ini kau masih di situ. Iyah gituh.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Belajar Budaya "Karapan Sapi Madura"

Bicara tentang Indonesia, dengan berjuta kekayaan alam dan juga budayanya, ras dan suku bangsa yang beraneka ragam, tak cukup hanya hitungan jam untuk menceritakan betapa elok dan melimpahnya harta Indonesia. 

Membahas soal Indonesia, memang tak ada habisnya. Sekitar 17.504 pulau yang dimilikinya, dan bermacam budaya juga tradisi yang terbilang kaya dan masih lestari hingga hari ini.
Indonesia memang sangat asyik untuk diulik, apalagi tentang budayanya.
Di postingan kali ini, kita akan belajar dan mengenal salah satu budaya yang ada di Indonesia bagian timur.
Sudah ada yang pernah tahu tentang Karapan Sapi? Tradisi yang hanya dimiliki oleh orang-orang Madura dan masih terlestarikan sampai hari ini.
Yuk kita mengulik sedikit tentang Karapan Sapi bersama Ketua Dewan Kesehatan Rakyat (DKR), Bangkalan, yang akrab di sapa Muhyi. 


Karapan Sapi itu apasih?
Karapan Sapi adalah perlombaan pacuan sapi, dimana biasanya sapi di adu sebagaimana balapan lari. Dengan satu joki yang menumpangi sepasang sapi …

Basecamp Caffe, Idolanya Tempat Tongkrongan Di Ciputat

Temen-temen Mahasiswa Uin Jakarta, atau temen-temen yang tinggal di sekitaran Ciputat dan suka nongkrong pasti tau nih tempat ngopi dan ngobrol yang satu ini.


Suasana di tempat ini memang nyaman. Meski atapnya terbilang begitu dekat ke kepala, namun nuansa yang seperti ini cukup mengingatkan para pengunjung (terutama saya) agar selalu merasa rendah (hati).
Sempat meliburkan jam operasi beberapa bulan lamanya, Basecamp Cafe baru-baru ini kembali beroperasi dan tak kehilangan citranya sebagai salah satu Cafe yang terbilang ramai di area Ciputat ini.


Jam buka tempat tongkrongan ini dimulai dari 09:00 sampai jam 03:00 wib setiiap hari Kamis-Rabu.

Untuk menu di tempat ini sudah bisa dikategorikan dalam kata 'lengkap', Ada makanan berat untuk mengenyagkan perut, Nasi Goreng dan beberapa makanan lainnya.
Buat yang sekadar mau nyemil, tersedia pisang cokelat, kentang goreng, dan makanan ringan lainnya. Soal Kopi-kopian, di tempat ini sudah disediakan untuk para pengunjung dengan berb…

Puisi Buat Mantan Gebetan Terindah

Bicara tentang masa lalu,gue ingat pada waktu gue masih nge-gebet cewek antagonis di masa Putih biru-biru.Gue sempet bikin puisi buat dia,saat gue baca sempet gue mikir "ternyata dulu gue puitis banget" .Nih puisi gue buat gebetan gue di masa Putih biru-biru >Cinta atau matematika
Di posting oleh Fauzi Achmad pada 02:13
AM, 06-Jun-13Cintaku padamu bagaikan " PI "
dalam sebuah rumus
matematika yang berarti suatu
ketetapan,tapi cintaku padamu
tidaklah seperti " GRADIEN "
yang berarti kemiringan suatu garis.
Cintaku bukan pula seperti "
JARI - JARI " yang bersifat
setengah dalam suatu
lingkaran,namun cintaku
bagaikan " DIAMETER " yg bersifat
utuh dlm sbuah
lingkaran.
Cntaq juga bkan pula seperti
" SKALA " yg berarti suatu
pengukur,tapi melainkan
seperti bentuk " BOLA " yg tidak
dapat di ukur dan tak
terhingga.Puisi itu gue ambil di blog gue yang jadul.Sebenernya puisi itu udah lama gue buat,tapi baru tahun kemaren g…