Skip to main content

Menikmati Hari Tak Berujung

Ini adalah hari selasa pertama yang terasa hambar bagiku. Karena sebelumnya biasanya setiap hari selasa aku di sibukkan dengan tugas-tugas sekolah, sekarang sudah menjadi alumni, jadi memang terasa masih sangat tidak nyaman dengan keadaan yang sekarang.

Tepat di hari selasa di minggu kemarin, aku masih di sibukkan dengan persiapan acara Wisuda purna siswa, jadi masih hangat-hangatnya kejadian waktu itu menyelimuti ingatanku.
Mereka masih ku ingat, saat memakai toga, saat foto bareng acak-acakan... Haaaahhhh udahlah,... Mengingat kejadian itu, membuatku semakin rapuh saja.

Masih di hari selasa, hari yang amat terasa hambar. Di hari-hari yang lain, biasanya bantu-bantu bapak kerja. Tapi kalau udah hari selasa, keadaan mulai datar tak karuan. Karena hari selasa hari liburnya bapakku bekerja. Mungkin ini yang di maksud hari tak berujung. Ya sudahlah nikmati saja.

Hari selasa sudah mulai beranjak menuju selasa malam alias malam rabu. Besok mulai sekolah lagi, eh kerja lagi. Lebih tepatnya bantu orang tua.

Masih sama seperti hari-hari sebelumnya, motor berbodi aneh aku tumpangi sambil mencari pengganjal perutku.

Akhirnya warung di pinggir jalan menjadi pilihanku untuk malam ini.
Dia Silfi, teman di masa Taman Kanak yang masih akrab denganku. Sekarang dia sudah  sering membantu kakak sepupunya jualan bakso.
Kebetulan aku berjumpa dengan Silfi, dia yang melayani pesananku. Sambil membungkus pesananku, Silfi bertanya padaku,
" Zi, kamu masih ingat gak waktu dulu pas masih kecil kita sering main bareng. Tuker-tukeran kado ", tanya dia dengan mata yang berkaca-kaca.
" Iya sil, waktu itu hidangannya roti berbentuk segitiga dengan selai rasa durian di dalamnya ", jawabku, sengaja ku iringi dengan sedikit tertawa agar suasana tak begitu dramatis.

Jadi waktu dulu aku masih kecil sering main yang namanya tuker-tukeran kado. Ada beberapa orang yang telibat dalam permainan itu, termasuk aku dan Silfi. Permainannya cukup mudah, setiap hari ada seorang anak yang berulang tahun. Setiap ada yang berulang tahun, pasti di kunjungi rumahnya dengan membawa kado.
Jadi waktu itu aku pernah ulang tahun 3 kali dalam sebulan.. hahaha.. satu bungkus Mie instan saja sudah sangat istimewa sekali pada saat itu untuk di jadikan kado. Itu adalah kado termahal saat itu...Hahaha...sungguh sangat ku rindukan masa itu.

Sambil memasukkan bakso kedalam kantong plastik, Silfi tertawa bersamaku.
Matanya berkaca-kaca, dia sekarang lagi hamil. Sudah lebih dari 6 bulan usia kandungannya.

Kami mulai bernostalgia, mengingat cerita di masa kecil yang sangat menyenangkan.
" Sekarang kita sudah dewasa sil, aku sudah lulus SMA, kamu pun sudah mau melahirkan ".
" Iya zi, cepat banget ya waktu berlalu ", jawab Silfi sambil menyuguhkan bakso yang sudah di bungkus padaku.

Selagi uang ku bayarkan padanya, aku berpamitan sambil menyalakan motor berbodi anehku.
Dengan kejadian itu, dari hari yang hambar berubah menjadi hari yang menyedihkan.

Aku merindukan masa-masa sekolahku !

Comments

Popular posts from this blog

Belajar Budaya "Karapan Sapi Madura"

Bicara tentang Indonesia, dengan berjuta kekayaan alam dan juga budayanya, ras dan suku bangsa yang beraneka ragam, tak cukup hanya hitungan jam untuk menceritakan betapa elok dan melimpahnya harta Indonesia. 

Membahas soal Indonesia, memang tak ada habisnya. Sekitar 17.504 pulau yang dimilikinya, dan bermacam budaya juga tradisi yang terbilang kaya dan masih lestari hingga hari ini.
Indonesia memang sangat asyik untuk diulik, apalagi tentang budayanya.
Di postingan kali ini, kita akan belajar dan mengenal salah satu budaya yang ada di Indonesia bagian timur.
Sudah ada yang pernah tahu tentang Karapan Sapi? Tradisi yang hanya dimiliki oleh orang-orang Madura dan masih terlestarikan sampai hari ini.
Yuk kita mengulik sedikit tentang Karapan Sapi bersama Ketua Dewan Kesehatan Rakyat (DKR), Bangkalan, yang akrab di sapa Muhyi. 


Karapan Sapi itu apasih?
Karapan Sapi adalah perlombaan pacuan sapi, dimana biasanya sapi di adu sebagaimana balapan lari. Dengan satu joki yang menumpangi sepasang sapi …

Basecamp Caffe, Idolanya Tempat Tongkrongan Di Ciputat

Temen-temen Mahasiswa Uin Jakarta, atau temen-temen yang tinggal di sekitaran Ciputat dan suka nongkrong pasti tau nih tempat ngopi dan ngobrol yang satu ini.


Suasana di tempat ini memang nyaman. Meski atapnya terbilang begitu dekat ke kepala, namun nuansa yang seperti ini cukup mengingatkan para pengunjung (terutama saya) agar selalu merasa rendah (hati).
Sempat meliburkan jam operasi beberapa bulan lamanya, Basecamp Cafe baru-baru ini kembali beroperasi dan tak kehilangan citranya sebagai salah satu Cafe yang terbilang ramai di area Ciputat ini.


Jam buka tempat tongkrongan ini dimulai dari 09:00 sampai jam 03:00 wib setiiap hari Kamis-Rabu.

Untuk menu di tempat ini sudah bisa dikategorikan dalam kata 'lengkap', Ada makanan berat untuk mengenyagkan perut, Nasi Goreng dan beberapa makanan lainnya.
Buat yang sekadar mau nyemil, tersedia pisang cokelat, kentang goreng, dan makanan ringan lainnya. Soal Kopi-kopian, di tempat ini sudah disediakan untuk para pengunjung dengan berb…

Puisi Buat Mantan Gebetan Terindah

Bicara tentang masa lalu,gue ingat pada waktu gue masih nge-gebet cewek antagonis di masa Putih biru-biru.Gue sempet bikin puisi buat dia,saat gue baca sempet gue mikir "ternyata dulu gue puitis banget" .Nih puisi gue buat gebetan gue di masa Putih biru-biru >Cinta atau matematika
Di posting oleh Fauzi Achmad pada 02:13
AM, 06-Jun-13Cintaku padamu bagaikan " PI "
dalam sebuah rumus
matematika yang berarti suatu
ketetapan,tapi cintaku padamu
tidaklah seperti " GRADIEN "
yang berarti kemiringan suatu garis.
Cintaku bukan pula seperti "
JARI - JARI " yang bersifat
setengah dalam suatu
lingkaran,namun cintaku
bagaikan " DIAMETER " yg bersifat
utuh dlm sbuah
lingkaran.
Cntaq juga bkan pula seperti
" SKALA " yg berarti suatu
pengukur,tapi melainkan
seperti bentuk " BOLA " yg tidak
dapat di ukur dan tak
terhingga.Puisi itu gue ambil di blog gue yang jadul.Sebenernya puisi itu udah lama gue buat,tapi baru tahun kemaren g…