Skip to main content

Dengan berbisnis kuliner kaki lima saya bisa membayar kuliah dan membantu saudara saya mendapatkan pekerjaan

Bisnis adalah suatu kegiatan yang menimbulkan timbal balik antara satu pihak dengan pihak lainnya, keuntungan atau kerugian sering kali di rasakan, tergantung bagaimana cara menjalankannya dan faktor keberuntungan juga berpengaruh terhadap suatu bisnis tersebut. Bukan hanya sekedar tahu teori saja untuk memulai sebuah bisnis, tapi modal dan mental juga sangat di butuhkan, menurut cerita beberapa orang yang pernah saya dengar begitu. Beda dengan saya, yang memulai sebuah bisnis tanpa suatu persiapan, tanpa modal yang banyak, mental yang juga masih seumur jagung.
Guru, tetangga, teman dan juga keluarga kerap kali memanggil saya dengan sebutan Fauzi pakai huruf “Z” sebelum huruf “I” manggilnya. Beda dengan teman-teman di kota metropolitan yang sekarang sedang saya singgahi, mereka lebih senang memanggil saya dengan huruf “Z” di ganti huruf “J” bacanya. Fauji, begitulah orang-orang memanggilku disini. Tangerang, kota yang berada di dekat kota Jakarta ini sangat ramai, saya tinggal di kos-an kecil yang berada di kawasan pabrik-pabrik. Macet udah biasa, makan nasi warteg malah hampir tiap hari. Saya adalah tukang penjual nasi bebek kaki lima di pinggir trotoar, selain hari minggu saya berdagang dari jam 8 pagi sampai kira-kira jam 16:00 wib tutupnya, tidak bisa di pastikan pulangnya, karena faktor kondisi kadang berubah-ubah. Saya juga sedang menempuh pendidikan D3 di Bina Sarana Informatika atau lebih di kenal dengan sebutan BSI, berada di Jakarta barat Jl. Ringroad Barat Cengkareng tepatnya. Saya terdaftar sebagai mahasiswa reguler di jurusan Broadcasting, jam kuliah kadang tidak selalu sama tiap harinya, dari hari Selasa sampai hari Jum’at tanpa jeda. Kuliah kadang dari jam 12:15 wib, kadang juga masuk jam 14:30 wib, sedangkan saya selain hari minggu juga mempunyai keharusan untuk berdagang dan tidak bisa di tinggal-tinggal, begitupun dengan kuliah.
Lalu bagaimana cara saya menjalani kedua kewajiban tersebut? Sedangkan waktunya benturan. Dan kenapa saya memilih berdagang atau membuka bisnis Nasi Bebek, kenapa gak kerja di PT atau yang lainnya yang waktunya lebih fleksibel bagi mahasiswa apalagi masih Maba.
Saya lulusan SMA angkatan 2015, di Madura tepatnya. Setelah lulus dari SMA saya mendambakan kuliah di salah satu Universitas ternama di Surabaya, Universitas Airlangga. Di jurusan Sastra Bahasa Indonesia saya mencoba mendaftarkan diri lewat SNMPTN tapi gagal, karena saya memang tidak berprestasi dan nilai UN saya tidak terlalu tinggi di bandingkan dengan teman-teman seangkatan. Belum menyerah, saya mencoba keberuntungan lainnya dengan mendaftarkan diri lewat jalur SBMPTN, dengan membayar uang Rp.100.000 saya sudah bisa mengikuti tes tulis di Surabaya, dan hasilnya tetap gagal belum lolos. Kesempatan untuk masuk di perguruan tinggi Universitas Airlangga Surabaya tinggal satu jalur lagi pada tahun itu, lewat jalur mandiri dengan  biaya yang di angan-angan di luar batas kemampuan saya dan keluarga saya tentunya. Alhamdulillah saya terlahir dari keluarga yang berkecukupan, cukup makan hari ini, hari esok ya terserah besok dapat rezekinya berapa. Sebagai anak Tukang pandai besi, saya terlahir sebagai anak paling muda dan mempunyai cita-cita yang tinggi, yang anggapan saudara-saudara saya tidak mungkin dan jauh dari dugaan. Dari lima bersaudara, saya satu-satunya yang masih melek pendidikan, beberapa saudara saya lebih memilih membuka usaha dari pada menghabiskan dana untuk belajar di bangku sekolah. Katanya !
Hingga keadaan mengharuskan saya belum kuliah dulu pada tahun itu. Dari pada sekedar menganggur menghabiskan uang orang tua yang banting tulang seharian, saya memutuskan untuk membantu bapak saya membuat pisau, arit dan segala macam peralatan lainnya yang dapat di ciptakan lewat pandai besi tentunya. Bersama kaka saya yang paling muda, saya membantu bapak kira-kira selama satu tahun lamanya. Dari yang awalnya tidak tahu apa-apa tentang bagaimana cara pembuatan pisau dan sebagainya, akhirnya saya sedikit-sedikit mulai tahu dan mendapatkan ilmunya. Satu tahun berselang, saya belum juga ada kesempatan untuk kuliah di Madura. Terkendala oleh waktu kerja dan penghasilan yang tak seberapa. Sudah tahu dan bisa meskipun belum mahir dalam dunia pandai besi, saya memutuskan untuk hijrah ke Tangerang, tempat kedua saudara saya membuka usaha disana. Dari niat awal saya memang mau mencari ilmu, masuk dunia perkuliahan adalah niatan pertama saya saat itu. Akhirnya saya berada di kota dimana tempat kaka nomer dua saya tinggal, dengan usaha berjualan nasi bebek di pinggir jalan, kaka saya sudah lebih dari 4 tahun berada di kota Tangerang, dengan istri dan kedua anaknya. Perlahan saya mulai belajar menjadi tukang nasi bebek, dari ngupas ketimun, membungkus nasi, dan semua pekerjaan yang membuat usaha nasi bebek ini terus berjalan, mulai saya pelajari satu persatu.  Kurun waktu sekitar satu tahun, saya sudah mulai bisa melakukan semua pekerjaan tukang nasi bebek.

Pendaftaran perkuliahan sudah di buka, sekitar 4 juta duit yang saya punya waktu itu, karena sering main dan banyak pengeluaran, namanya juga anak muda. Bina Sarana Informatika, di singkat BSI, kampus yang menjadi pilihan saya pada waktu itu. Selain biayanya yang terjangkau, saya lihat alumninya banyak yang sukses dan info pembelajaran dalam kampusnyapun cukup bagus. Akhirnya saya terdaftar sebagai mahasiswa BSI, tanpa biaya dari orang tua sepeserpun, saya bisa kuliah meneruskan pendidikan saya. Terdaftar sebagai mahasiswa reguler yang masuknya pagi sampai sore, rencananya mau bantuin kaka saya berjualan nasi bebek pada malam harinya, dan kuliah di siang harinya. Tapi itu hanya rencana. Allah SWT menakdirkan saya untuk tidak tinggal dengan kaka saya. Sempat mau buka cabang baru, tapi abang saya mempunayi niat untuk membatalkan tempat lapak itu, padahal sudah DP uang sewa tempat, karena kejauhan dan jalur yang kurang nyaman kalau dari tempat tinggal kaka yang sekarang. Dan saya memberanikan diri mengajukan untuk berjualan di tempat itu, padahal duit sudah di pakai buat daftar kuliah. Setelah sekitar satu bulan kaka mempertimbangkan keputusannya, akhirnya saya di bolehkan dan otomatis saya akan pindah dari tempatnya dia, itu artinya saya akan tinggal di kontrakan sendiri. Saya memberanikan diri untuk membuka usaha sendiri karena saya mempunyai niatan untuk membantu saudara saya yang belum ada pekerjaan di Madura, dia pengangguran dan kerjaannya Cuma menghabiskan duit orang tua. Saya bisa saja kerja di suatu perusahaan, tapi saya pikir buat apa saya punya penghasilan sendiri tapi ada salah satu keluarga saya yang terombang-ambing hidupnya di suatu hari esok. Awal-awal memang bingung, kuliah saya terdaftar dikelas reguler, mau pindah kelas malam harus nunggu semester dua dulu, sedangkan dagangan harus jualan siang juga, karena lokasi perkantoran, jadi kalau malam hari agak berkurang keramaiannya. Karena niat saya baik, mungkin ALLAH mempermudah jalan saya untuk berjualan membuka bisnis kuliner kaki lima. Saya bisa punya gerobak, motor dalam sekejab, kulkas, dan perlengkapan lainnya. ALLAH mendatangkan semua itu melalui saudara-saudara saya, dengan kebaikan hati mereka, mereka memberikan semua itu untuk saya. Al hasil saya mulai berjualan dengan saudara saya yang baru saja berangkat dari kampung halaman. Meski memakan banyak tenaga, tapi saya berusaha untuk kuat dan sabar mejalankan  bisnis Kuliner Kaki Lima Nasi Bebek ini. Demi kebaikan keluarga saya untuk ke depannya. Dengan gantian jam jualan, saya berangkat lebih awal, dan saat ada jam kuliah, saudara saya yang jagain lapak jualan. Alhamdulillah saudara saya sudah bekerja semua, tanpa harus merepotkan orang tua sayapun bisa membiayai kuliah sendiri. Begitulah cerita saya mengapa bisa menjalankan dan mau bertahan di dunia usaha. #StartupLyfe #DWVlogCompetition #MyRepublicIndonesia 

Comments

Popular posts from this blog

Belajar Budaya "Karapan Sapi Madura"

Bicara tentang Indonesia, dengan berjuta kekayaan alam dan juga budayanya, ras dan suku bangsa yang beraneka ragam, tak cukup hanya hitungan jam untuk menceritakan betapa elok dan melimpahnya harta Indonesia. 

Membahas soal Indonesia, memang tak ada habisnya. Sekitar 17.504 pulau yang dimilikinya, dan bermacam budaya juga tradisi yang terbilang kaya dan masih lestari hingga hari ini.
Indonesia memang sangat asyik untuk diulik, apalagi tentang budayanya.
Di postingan kali ini, kita akan belajar dan mengenal salah satu budaya yang ada di Indonesia bagian timur.
Sudah ada yang pernah tahu tentang Karapan Sapi? Tradisi yang hanya dimiliki oleh orang-orang Madura dan masih terlestarikan sampai hari ini.
Yuk kita mengulik sedikit tentang Karapan Sapi bersama Ketua Dewan Kesehatan Rakyat (DKR), Bangkalan, yang akrab di sapa Muhyi. 


Karapan Sapi itu apasih?
Karapan Sapi adalah perlombaan pacuan sapi, dimana biasanya sapi di adu sebagaimana balapan lari. Dengan satu joki yang menumpangi sepasang sapi …

Kopi Tuli?

Salam para readers, rasanya sudah lama kita tidak bertegur sapa via aksara. Semoga kita masih di berikan rasa mau untuk terus menulis dan membaca. Aamiin...

Oke para readers, setelah sekian lama kita tidak membahas tentang kuliner, dan rasanya kangen juga buat ngereview lezatnya kuliner yang ada di negeri tercinta ini.

Pada nuansa malam Lebaran Idhul Adha, masih dengan galaunya hati yang merindukan moment kebersamaan bersama keluarga, namun apadaya keadaan belum bisa memulangkan saya dari kota rantau ini, *hiks...
Sedikit mengobati rasa galau, saya di ajak oleh dua teman saya yang sama-sama tidak bisa takbiran bersama keluarganya, mereka membawa saya ke suatu tempat dimana jaraknya tidak terlalu jauh dari kost-an yang saya tempati, yakni di daerah Ciputat.



Berada di daerah Tangerang Selatan, sebuah kedai kopi berdiri di lintasan Jalan Raya Krukut No, 70, Cinere, Depok. Tadinya saya agak bingung, karena sebelum berangkat, kedua teman saya ini mengajak saya untuk mencicipi minuman yang…

BINGUNG MILIH JURUSAN KULIAH? ATAU MERASA SALAH MASUK JURUSAN? BERIKUT TIPS JITU MENGATASINYA!

Masuk dan terdaftar sebagai salah satu Mahasiswa di suatu Univertas memang menjadi keinginan banyak pelajar ketika akan melewati masa sekolahnya. Namun tidak sedikit yang merasa kebingungan ketika hendak menentukan pilihan jurusan dalam jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Saya mau daftar di jurusan Public Speaking, tapi saya pemalu takut di suruh bicara ini itu. Mau daftar di jurusan akuntansi tapi basic saya di ilmu pengetahun sosial. Aduh gimana ya?”  Mungkin pernyataan di atas pernah di alami oleh sebagian calon Mahasiswa ketika hendak menentukan jurusan kuliahnya.
Kali ini saya akan berbagi tips dari salah satu alumni di salah satu kampus yang berada  di daerah Ibu kota Jakarta.

Membahas tentang jurusan dalam dunia perkuliahan, kuliah sendiri itu apa sih?
“Bicara kuliah bicara Universitas. Universe adalah semesta, dimana terbuka lebar kebebasan dan keragaman, tentunya dengan batasan. Kebebasan dan keragaman adalah sesuatu yang mesti dikelola.” Pemaparan dari Muhktar Fauzi yang…