Skip to main content

Pagi, Mentari



Alinea pagi ini di awali dengan ngelanturnya diri saat di bangunkan oleh Ibu. Berada dalam bunga tidur yang membawa saya pada suasana yang masih serasa bulan puasa, padahal Idulfitri sudah tiba.

Selamat pagi, Mentari. Aku sudah mandi, menyambutmu dengan menggunakan sarung, baju koko dan juga peci, semoga diri ini menjadi lebih baik seperti keadaan di hari ini yang di namai Hari Raya Idulfitri.

Di meja makan sudah tersaji nasi putih, bebek goreng, opor ayam, dan makanan penutup lainnya. Seperti biasa, inilah tradisi yang sudah sejak lama saya rasakan. Sembari sibuk membereskan urusan dapur, peringatan - peringatan kecil seperti untuk sarapan dulu sebelum berangkat melaksanakan solat id ke masjid dari Ibu terdengar sangat merdunya, dan saya suka. Suara - suara yang amat saya rindukan ketika berada jauh dari keluarga.

Di depan teras rumah sudah terwarnai sedikit cahaya mentari, dan di kejauhan sana, para tetangga juga sedang sibuk mengurusi rumahnya dan juga menyerukan peringatan untuk anak - anaknya agar segera bergegas untuk mandi dan melaksanakan solat id. Betapa riangnya pagi ini, sungguh beruntung masih bisa menikmati suasana pedesaan yang seperti ini.

Di jalan ke arah masjid, sapaan demi sapaan berdatangan, dan saya jawab bak romantisme keluarga yang sudah sangat dekat. Jalanan sungguh benar - benar di jajaki oleh para pesarung dan wanita -wanita yang sudah tertutupi mukena di bagian kepalanya. Pemandangan yang sangat memanjakan mata, ini adalah hari yang istimewa memang. Seorang ibu yang sudah lama tidak berjumpa dengan anaknya, di moment ini mereka bisa beriringan untuk melakukan solat id. Banyak para perantau berdatangan dengan raut wajah yang amat menyenangkan.

***

Suasana solat Id sangat menentramkan, seusainya, tawa dan tangis beraduk menjadi haru. Sungguh bumbu - bumbu dunia. Seperti biasa, salam dan kata maaf menjadi trending topik. Dan sekali lagi aku katakan aku bahagia bisa menikmati semua ini. 

Kala mentari pagi masih menyaksikan semua ini, suasana yang jarang di jumpai setiap tahunnya. 
Saat tradisi dan budaya sudah terlaksanakan semua, seperti berkunjung ke tetangga, menikmati suguhan - suguhan makanannya, bersilaturahmi ke saudara - saudara, dan berziarah ke makam para almarhum dan almarhumah, waktunya mengistirahatkan badan dan menikmati jajanan rumahan.

Dan agenda terakhir saya, setelah mentari sudah mau berganti teriknya matahari, menulis semua nama saudara dan juga para sesepuh dari keturunan keluarga saya. Baik dari Ibu ataupun dari Bapak. Sepertinya harus, berhubung sebentar lagi akan berangkat ke kota rantau, nama nama itu harus saya kantongi untuk memperluas tali silaturahmi di kemudian hari.

***

Selamat pagi, dan saya haturkan terimakasih kepada sang pencipta Mentari.

Comments

Popular posts from this blog

Belajar Budaya "Karapan Sapi Madura"

Bicara tentang Indonesia, dengan berjuta kekayaan alam dan juga budayanya, ras dan suku bangsa yang beraneka ragam, tak cukup hanya hitungan jam untuk menceritakan betapa elok dan melimpahnya harta Indonesia. 

Membahas soal Indonesia, memang tak ada habisnya. Sekitar 17.504 pulau yang dimilikinya, dan bermacam budaya juga tradisi yang terbilang kaya dan masih lestari hingga hari ini.
Indonesia memang sangat asyik untuk diulik, apalagi tentang budayanya.
Di postingan kali ini, kita akan belajar dan mengenal salah satu budaya yang ada di Indonesia bagian timur.
Sudah ada yang pernah tahu tentang Karapan Sapi? Tradisi yang hanya dimiliki oleh orang-orang Madura dan masih terlestarikan sampai hari ini.
Yuk kita mengulik sedikit tentang Karapan Sapi bersama Ketua Dewan Kesehatan Rakyat (DKR), Bangkalan, yang akrab di sapa Muhyi. 


Karapan Sapi itu apasih?
Karapan Sapi adalah perlombaan pacuan sapi, dimana biasanya sapi di adu sebagaimana balapan lari. Dengan satu joki yang menumpangi sepasang sapi …

Kopi Tuli?

Salam para readers, rasanya sudah lama kita tidak bertegur sapa via aksara. Semoga kita masih di berikan rasa mau untuk terus menulis dan membaca. Aamiin...

Oke para readers, setelah sekian lama kita tidak membahas tentang kuliner, dan rasanya kangen juga buat ngereview lezatnya kuliner yang ada di negeri tercinta ini.

Pada nuansa malam Lebaran Idhul Adha, masih dengan galaunya hati yang merindukan moment kebersamaan bersama keluarga, namun apadaya keadaan belum bisa memulangkan saya dari kota rantau ini, *hiks...
Sedikit mengobati rasa galau, saya di ajak oleh dua teman saya yang sama-sama tidak bisa takbiran bersama keluarganya, mereka membawa saya ke suatu tempat dimana jaraknya tidak terlalu jauh dari kost-an yang saya tempati, yakni di daerah Ciputat.



Berada di daerah Tangerang Selatan, sebuah kedai kopi berdiri di lintasan Jalan Raya Krukut No, 70, Cinere, Depok. Tadinya saya agak bingung, karena sebelum berangkat, kedua teman saya ini mengajak saya untuk mencicipi minuman yang…

BINGUNG MILIH JURUSAN KULIAH? ATAU MERASA SALAH MASUK JURUSAN? BERIKUT TIPS JITU MENGATASINYA!

Masuk dan terdaftar sebagai salah satu Mahasiswa di suatu Univertas memang menjadi keinginan banyak pelajar ketika akan melewati masa sekolahnya. Namun tidak sedikit yang merasa kebingungan ketika hendak menentukan pilihan jurusan dalam jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Saya mau daftar di jurusan Public Speaking, tapi saya pemalu takut di suruh bicara ini itu. Mau daftar di jurusan akuntansi tapi basic saya di ilmu pengetahun sosial. Aduh gimana ya?”  Mungkin pernyataan di atas pernah di alami oleh sebagian calon Mahasiswa ketika hendak menentukan jurusan kuliahnya.
Kali ini saya akan berbagi tips dari salah satu alumni di salah satu kampus yang berada  di daerah Ibu kota Jakarta.

Membahas tentang jurusan dalam dunia perkuliahan, kuliah sendiri itu apa sih?
“Bicara kuliah bicara Universitas. Universe adalah semesta, dimana terbuka lebar kebebasan dan keragaman, tentunya dengan batasan. Kebebasan dan keragaman adalah sesuatu yang mesti dikelola.” Pemaparan dari Muhktar Fauzi yang…