Toni Boncel #4 Cerpen Bersambung

Teeeeeeeeeeeeeeeettt.....

Bel berbunyi dan menandakan upacara akan segera dimulai. Semua siswa keluar dari kelas dan menuju lapangan upacara. Dalam waktu yang tidak lama, siswa sudah memadati lapangan sekolah.

Kelas satu berbaris disebelah kanan podium. Sedangkan anak kelas dua berbaris ditengah dan posisi sebelah kiri adalah kelas tiga. Semua guru berdiri di atas podium sementara beberapa siswa yang mengikuti ekskul PMR (Palang Merah Remaja) berdiri dibelakang bersama guru BK (Bimbingan Konseling)

Warna lapangan sekejap menjadi putih dan bersih, kami semua siap menjalankan upacara. Bahkan petugas sudah stand by sejak pagi buta. Upacara dimulai tepat pukul 7. Susunan acara sudah dibacakan dan semua petugas sudah mulai menjalankan tugasnya masing-masing.

Untuk urusan baris, urutan terdepan udah jadi langganan untuk posisi gue berdiri. Hal ini udah terjadi selama hampir 8 tahun dangue udah terbiasa. Tapi gue selalu berpikir positif, gue ambil keuntungan berdiri didepan karena bisa melihat proses upacara dengan sangat jelas.

Setelah pembacaan teks Undang Undang Dasar 1945 (UUD ’45), janji siswa dan pembacaan teks Pancasila, inilah saat yang membosankan yang gue denger dari sebagian anak-anak. Mendengarkan si pembina upacara pidato. Uft, gue juga kadang suka bete, apalagi kalo pidatonya panjang x lebar = pegel!!! Yah...tapi mau gimana lagi, gak mungkin ‘kan kita interupsi ditengah-tengah pidato? Emang sidang paripurna?

Pidato awal semester baru dibawakan oleh kepala sekolah, Ibu Esih Setianingsih. Sosok yang sangat bersahaja di sekolah ini. Dalam isi pidatonya, dia mengucapkan selamat datang kembali ke sekolah kepada seluruh siswa, mengevaluasi kinerja guru selama 6 bulan ini dan membacakan satu pengumuman penting yang menjadi ‘agenda’ tetap awal semester di sekolah kami. Gue juga baru tau setelah agenda itu dibacakan.

“Kami, sebagai pengajar dan pemimpin di sekolah, mengucapkan selamat kepada Ananda Toni Wicaksana sebagai siswa kelas 1 dengan nilai tertinggi, Adinda Puput Mutiari sebagai siswa kelas 2 dengan nilai tertinggi dan Ananda Aditya Wiryawan sebagai siswa kelas 3 dengan nilai tertinggi!!!”
Seisi sekolah bergemuruh dan bertepuk tangan.

Sedangkan gue? Gue masih gak percaya dengan apa yang gue denger barusan. Tapi teriakan Salma menyadarkan gue dari ketidaksadaran sesaat itu..

“Toni...Ton...Toni!!! Maju sana....”

Saat mau maju dan naik ke atas podium, hati gue mulai menciut. Membayangkan dengan puas siswa lain mengejek gue. Dan dengan begitu, seisi sekolah mendengar ejekan mereka untuk gue.

“Ya Tuhan, apa yang harus gue lakukan???” Ujar gue lirih

Gue masih membeku dibarisan paling depan. Beberapa teman mendorong dan menepuk-nepuk bahu gue. Gue masih bergeming.

Di SD dan SMP pun, gue pernah beberapa kali dapet nilai terbaik. Tapi itu gak semua siswa tahu. Mentok temen sekelas aja yang tau. Yaa, siapapun yang menduduki peringkat satu di dalam kelas sudah pasti ketahuan siapa orangnya.

“Diharapkan untuk ketiga siswa tersebut naik ke podium untuk mendapatkan piagam penghargaan dan sebuah piala” pinta pembina upacara.

“Toniiiiii...majuuuuuuu!!!!” Salma mulai geregetan.

Kaki gue spontan melangkah dan menuju podium. Bahkan untuk naik ke podium aja, gue kesusahan. Lagi, gue denger beberapa siswa-siswi cekikikan lihat tindak tanduk gue.

Gue dan dua orang lain yang disebutkan namanya tadi sudah berdiri diatas podium dan sudah menerima piala serta penghargaan. Tapi kami masih harus berdiri didepan, sebab ada satu pengumuman lagi yang harus dibacakan.

“Dan untuk nilai tertinggi di sekolah ini atau juara umum nilai tertinggi, jatuh kepada Ananda Toni Wicaksanaaaaaaa....dengan nilai rata-rata 91!!!!”

Gue lihat anak kelas satu, angkatan gue, berjingkrak-jingkrak kegirangan. Bagaimana tidak? Juara umum nilai tertinggi direbut oleh anak kelas satu, yaitu gue.

“Silakan Ananda Toni, berikan sepatah dua patah kata sambutan....” ibu Esih mempersilakan.

Suasana hening. Seluruh mata tertuju ke gue. Dengan penuh keraguan gue mengambil mic dan...
“Hm...terima kasih kepada Ibu Esih, seluruh guru dan teman-teman semua. Saya percaya kalo Tuhan itu Maha Adil. Dia memberikan kelebihan intelegensitas pada saya untuk melengkapi kekurangan yang saya miliki....”

Dari atas podium ini, gue bisa melihat Siswoyo, Indra, Joko, dan orang-orang yang selalu mengkerdilkan gue. Orang yang selalu merendahkan gue dan memandang gue sebelah mata. Tapi saat seperti inilah, gue merasa ‘tinggi’. Gue,Toni ‘Boncel’, siswa dengan nilai terbaik diantara siswa yang terbaik.

* ‘kamsa hamnida, Toni’ = bahasa Korea, yang artinya ‘terima kasih, Toni’




***
Penulis : Edi Wijaya Rochman


Sudah di akhir cerita saja ya, hmmm.... Gimana readers? Kerenkan ceritanya. Ada pesan, ada kesan yang amat mendalam saat membaca cerita pendek ini memang ya.
Tulisan dari salah satu alumni Universitas Budi Luhur, Jakarta ini memang selalu menginspirasi. Terimakasih teruntuk penulis (Edi Wijaya Rochman) tulisan yang sangat berisi dan bagus ini akan selalu kami kenang.
Dan terimakasih untuk yang sudah membaca tulisan ini.
Semoga bermanfaat untuk kita semua, sampai jumpa di Cerpen Bersambung berikutnya...



Toni Boncel #4 Cerpen Bersambung Toni Boncel #4 Cerpen Bersambung Reviewed by Fauzi Achmad on December 13, 2019 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.