Rujak Tujuh Bulanan, Tradisi Jawa

Eits... Balik kampung langsung diajak sepupu untuk menghadiri acaranya. 7 bulanan istrinya yang hamil. Mungkin dari kecil saya atau orang-orang yang dibesarkan dengan tradisi jawa sudah tidak asing lagi dengan yang namanya Pemandian Seorang Ibu hamil ketika berusia 7 bulan kandungannya. Gak herankan???

Dari ritual ini, hal yang paling unik ada satu makanan yang menjadi salah satu icon dan mungkin tidak akan ditemukan di acara lainnya. Rujak 7 Bulanan. 

Dikutip dalam halaman food.detik.com - Dalam budaya Jawa, rujak menjadi salah satu suguhan dalam upacara kehamilan 7 bulan atau disebut Tingkeban atau Mitoni. Upacara ini dilakukan sebagai simbol ucapan syukur pada Tuhan untuk keselamatan calon orang tua dan bayi. Dilaksanakan saat calon ibu memasuki usia kehamilan 7 bulan.

Terdapat beberapa ritual yang dilakukan saat Mitoni seperti siraman, pendandanan, dan angreman. Tiap ritual melambangkan harapan positif terhadap keselamatan ibu dan bayi kelak.

Setiap daerah mungkin memiliki makna yang berbeda terhadap upacara ini. Tapi yang jelas, menikmati rujak yang satu ini memang sangatlah berbeda dari rujak lainnya. 

Rasa manis bercampur dengan pedas, sangat unik banget dilidah orang asia. Dari beberapa buah pilihan, diantara seperti bengkoang, mangga, kedondong, nanas, ketimun, ubi jalar, dan jeruk Bali jadi isian rujak gobet (serut) populer. Ada juga yang mengganti salah satu buah dengan pepaya, jambur air, dan delima. TIsian buah tergantung selera, karena menurut tradisi yang juga diabadikan oleh food.detik.com tidak ada bahan baku dalam rujak ini.

Rujak 7 bulanan ini memang top untuk lidah kulineran.
Rujak Tujuh Bulanan, Tradisi Jawa Rujak Tujuh Bulanan, Tradisi Jawa Reviewed by Fauzi Achmad on December 03, 2020 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.