Skip to main content

Jeratan ibu-ibu

Hari ini terpaksa gak masuk sekolah. Namanya juga terpaksa, jadi ini terjadi bukan kemauan ku. Ya gitu ! Fajar tak bisa menghiasi langit di timur sana, kelabu, petang tak bercahaya. Hahahah...Udah sok puitis aja nih. Sebenarnya gini, pagi tadi cuaca gerimis, rintik-rintik air berjatuhan dari langit. Seragam sih udah di pakai, maunya berangkat ke sekolah. Tapi ya gitu ! Kembali pada faktor alam yang seakan memaksaku untuk diam saja di rumah. " terus kamu diem aja di rumah? " . Seperti biasanya, sekolah atau gak sekolah aku harus mengantarkan makanan berupa dua porsi nasi untuk ponakan dan sepupuku yang sedang mondok di " Pondok Pesantren Nurul Karomah ". Iya itu yayasan tempat aku sekolah. Akibat ritual itu adalah keharusanku, jadi mau gak mau aku harus berangkat kesana. Seperti biasa, motor berbodi aneh ku tumpangi hingga sampai ke sana. Ini agak berbeda dengan biasanya, celanaku jadi basah, tapi bajuku gak senasib dengan celanaku , " Maksud kamu baju kamu gak basah gitu? " , alhamdulillah bajuku gak basah, tapi jaketku yang kuyup :-( ... Hadehhh ... Tugas pertama udah selesai. Saatnya balik kerumah, karna mau masuk sekolah udah gak mungkin kan? .
Seiringan dengan bebunyian motor yang kutumpangi, akupun tiba di rumah.
Beberapa menit rebahan di kasur yang seakan lusuh, terdengar desas-desus di depan rumahku. Dengan rambut agak berantakan, aku mengahapiri, sekedar melihat. Ternyata itu suara ibu dan para bibi - bibi ku. Tak sengaja ku dengar apa yang sedang mereka bicarakan, semacam uang bantuan untuk masyarakat dari pemerintah. Namanya Boim, dia sepupuku yang telah ditunjuk untuk mengambil surat pencair uang untuk ibuku ibunya dan ibu-ibu sepupuku. " nah gimana tuh " . Dia mengajakku untuk hal yang satu ini. Di tengah gerimis kami melaju menuju tempat petugas yang mempunyai wewenang memegang surat itu. Dengan senyuman agak manis, " hehehehe " ,,kami meminta surat itu, sedikit ngobrol, seusainya kami langsung menuju rumah pak Kepala Desa berbekal surat di genggamanku. Saat itu Boim yang bertugas mengendalikan motor. Sesampainya di depan rumah pak lurah, dengan sedikit wajah kebingungan, maklum karna kami masih pertama kali bertamu ke rumah pak lurah.
Perjumpaan kami dengan pak lurah diawali dengan kata Salam. Seusai berjabat tangan, kami pun duduk berhadap-hadapan dengan pak lurah, dan dua orang laki-laki yang kebetulan juga bertamu ke rumah pak lurah pada saat itu.
Semacam surat bantuan untuk biaya pengobatan orang sakit, iya gak jauh beda dari tema itu yang pak lurah perbincangkan dengan dua orang laki-laki itu.
Beberapa menit berlalu, tibalah ending obrolan antara dua orang laki-laki itu dengan pak lurah.
Sebelum mereka berdua beranjak dari tempat duduknya, pak lurah langsung membuka obrolan baru dengan kami. Sedikit kalimat yang pak lurah ucapkan pada kami, berupa pertanyaan pada kami. " Kalau kalian ada perlu apa? " . " Ini pak " , saut kami berbarengan sambil ku berikan surat yang dari tadi ku pegang. Tak bertanya lagi pak lurah pun langsung mengerti maksud dan tujuan kami setelah membaca surat itu. Dalam bahasa madura, " oh ini di pegang dulu suratnya jangan sampai hilang. Nanti sekitar jam 10 -an datangnya, karna petugasnya masih berada di desa tetangga " , ujarnya, sambil mengembalikan surat itu pada kami. " iya pak, Terimakasih, kami pamit mau pulang dulu " , jawab si Boim. Pak lurahpun menawarkan pada kami untuk tetap duduk dulu di sana. Dan tawaran itu tak mampu  membuat kami bertahan disana, karna kami pikir masih tiga jam lagi menuju jam sepuluh. Kalaupun kami tetap bertahan disana, kemungkinan punggung kami akan menjerit kesakitan....! Seperti awal perjumpaan kami berpisah dengan pak lurah. Membawa surat itu lagi menuju rumah. Tepat di depan rumah sepupuku, namanya Opi , "  opie cumis bukan? " , Para bibiku dan ibuku sudah berjejer tak serasi menantikan kedangan kami, hampir mirip sama para wartawan yang sedang menantikan targetnya. Ada beberapa pertanyaan yang ku dengar, tapi intinya sama saja yakni gimana hasilnya? , iya gitu ! Boim menjawabnya dalam bahasa madura " bahwa kata pak lurah nanti sekitar jam sepuluh suruh balik lagi kesana " . Berbarengan berakhirnya jawaban dari Boim, kerumunan itupun sirna.
Berselang beberapa jam ! Setelah ku rasa sudah cukup puas berada di atas kasur. Ada suara yang memanggilku, pertanda aku harus berangkat lagi ke rumah pak lurah. Tengok jam memang sudah jam 10 lewat beberapa menit.
Berbeda dengan yang tadi, kali ini aku bersama Opi. Kurasa Boim sudah cukup lelah untuk hal ini.
Dan kali ini aku yang ambil alih kekuasaan untuk urusan motor. Gerimis masih berdawai. Aku tak hanya berdua dengan si Opi, di pertengahan jalan, bertemu dengan dua rekan lain yang sama-sama menunggangi motor dengan tujuan yang sama. Sebut saja Lili dan Jojon, iya nama asli mereka memang aku samarkan.
Keadaan agak berbeda dengan yang tadi pas bersama dengan Boim, kali ini di tetepian jalan di dekat rumah pak lurah ada beberapa orang yang katanya sudah menunggu sejak tadi. Beberapa orang lagi ada yang memilih untuk berteduh di sebuah rumah yang memang hanya berjarak satu ladang dengan rumah pak lurah. Dan kami pun memutuskan untuk berteduh di tempat itu juga, karna cuaca kurang bersahabat dan petugas pencair dananya pun masih belum datang kata mereka yang sudah menunggu dari tadi.
Ini agak aneh, dan mungkin akan menjadi pengalaman yang bisa di bilang agak gila yang pernah aku alami.
Kebanyakan dari kaum ibu-ibu yang sedang menunggu. Pikiranku mulai kemana-kemana, aku berhalusinasi. Iya aku sering nonton acara berita gitu di televisi. Segerombolan ibu-ibu berdesak-desakan berdempetan. Tak sedikit yang menggedong anaknya untuk mengambil jatahnya. Di penuhi dengan isak tangis yang begitu mengharukan dari mulut sang anak. Aku perkiran kejadian itu akan terjadi dan bahkan ku lihat secara langsung ! Hikz .. prediksi itu aku bicarakan pada Opi, sepertinya dia juga mulai berhalusinasi.
Dan barisan sebelah barat mulai berdiri, berjalan menuju rumah pak lurah dengan melontarkan kata-kata yang seakan mengungkapkan kegembiraan. Dan memang ku lihati ada beberapa petugas yang menuju ke rumah pak lurah. Kami pun beranjak menuju mengikuti langkah mereka. " Kalian gak kesana? " , tanyaku pada beberapa teman cowok yang dari tadi duduk di dekat aku dan Opi, mereka memang tak begitu lama di bandingkan dengan aku yang datang. " nggak, aku cuma nganterin ibuku " , jawab salah satu dari mereka. " oh " . Kataku.
Sambil berjalan aku bilang pada si opi " Loh, jadi kita cuma segini cowoknya? " . " udah jalan aja ", jawabnya.
Perasaan mulai gak enak. Ingatanku mulai mengarah pada berita di televisi yang pernah aku tonton. Dan ini memang benar-benar terjadi. Seperti apa yang aku halusinasikan. Segerombolan ibu-ibu sudah berdesak-desakkan di depan rumah pak lurah. Hadeh .... " hadeehh.. aku bilang juga akan seperti ini " .Seruku pada si Opi.
Kami mulai berada dalam jeratan Ibu-ibu. Berselang beberapa menit, isak tangis pun mulai pecah, dengan kaki di jinjit ku lihat ada beberapa anak kecil yang meneteskan air mata di dekapan ibunya... " jadi pengen nangis " Hikz  ...  suasana mulai mengharukan. Ku lihat Lili sudah mendapatkan jatahnya lebih awal dari pada aku dan Opi. Sementara si Jojon masih berada di belakang kami. Dan ini pengalaman yang takkan bisa ku lupakan.
Tak bisa ku hitung, sudah berapa tetes air mata yang berjatuhan, tetesan keringat yang selalu mereka usap sebelum sampainya di dagu mereka.
Ya Tuhan... Kapan semua ini akan selesai ....!!!
Entah sudah berapa jam aku terjerat oleh ibu-ibu ini.
Akhirnya giliranku sudah sampai, bersama si Opi ku tukarkan surat itu. Dan ada amanah yang memang harus aku sampaikan. Suasana sejuk mulai ku rasakan. Saat terlepas dari jeratan itu.Entah kemana Lili dan Jojon, buntutnya hilang dari penglihatan  Akupun berjalan menuju tempat dimana aku menitipkan motorku . Motor sudah hidup dan jeratan itu selesai. Hingga tiba di rumah bersama Opi. Aku lansung membagikan amanah itu. Dan aku merasa ada sesuatu yang memang benar-benar selesai !

Comments

Popular posts from this blog

Belajar Budaya "Karapan Sapi Madura"

Bicara tentang Indonesia, dengan berjuta kekayaan alam dan juga budayanya, ras dan suku bangsa yang beraneka ragam, tak cukup hanya hitungan jam untuk menceritakan betapa elok dan melimpahnya harta Indonesia. 

Membahas soal Indonesia, memang tak ada habisnya. Sekitar 17.504 pulau yang dimilikinya, dan bermacam budaya juga tradisi yang terbilang kaya dan masih lestari hingga hari ini.
Indonesia memang sangat asyik untuk diulik, apalagi tentang budayanya.
Di postingan kali ini, kita akan belajar dan mengenal salah satu budaya yang ada di Indonesia bagian timur.
Sudah ada yang pernah tahu tentang Karapan Sapi? Tradisi yang hanya dimiliki oleh orang-orang Madura dan masih terlestarikan sampai hari ini.
Yuk kita mengulik sedikit tentang Karapan Sapi bersama Ketua Dewan Kesehatan Rakyat (DKR), Bangkalan, yang akrab di sapa Muhyi. 


Karapan Sapi itu apasih?
Karapan Sapi adalah perlombaan pacuan sapi, dimana biasanya sapi di adu sebagaimana balapan lari. Dengan satu joki yang menumpangi sepasang sapi …

Basecamp Caffe, Idolanya Tempat Tongkrongan Di Ciputat

Temen-temen Mahasiswa Uin Jakarta, atau temen-temen yang tinggal di sekitaran Ciputat dan suka nongkrong pasti tau nih tempat ngopi dan ngobrol yang satu ini.


Suasana di tempat ini memang nyaman. Meski atapnya terbilang begitu dekat ke kepala, namun nuansa yang seperti ini cukup mengingatkan para pengunjung (terutama saya) agar selalu merasa rendah (hati).
Sempat meliburkan jam operasi beberapa bulan lamanya, Basecamp Cafe baru-baru ini kembali beroperasi dan tak kehilangan citranya sebagai salah satu Cafe yang terbilang ramai di area Ciputat ini.


Jam buka tempat tongkrongan ini dimulai dari 09:00 sampai jam 03:00 wib setiiap hari Kamis-Rabu.

Untuk menu di tempat ini sudah bisa dikategorikan dalam kata 'lengkap', Ada makanan berat untuk mengenyagkan perut, Nasi Goreng dan beberapa makanan lainnya.
Buat yang sekadar mau nyemil, tersedia pisang cokelat, kentang goreng, dan makanan ringan lainnya. Soal Kopi-kopian, di tempat ini sudah disediakan untuk para pengunjung dengan berb…

Puisi Buat Mantan Gebetan Terindah

Bicara tentang masa lalu,gue ingat pada waktu gue masih nge-gebet cewek antagonis di masa Putih biru-biru.Gue sempet bikin puisi buat dia,saat gue baca sempet gue mikir "ternyata dulu gue puitis banget" .Nih puisi gue buat gebetan gue di masa Putih biru-biru >Cinta atau matematika
Di posting oleh Fauzi Achmad pada 02:13
AM, 06-Jun-13Cintaku padamu bagaikan " PI "
dalam sebuah rumus
matematika yang berarti suatu
ketetapan,tapi cintaku padamu
tidaklah seperti " GRADIEN "
yang berarti kemiringan suatu garis.
Cintaku bukan pula seperti "
JARI - JARI " yang bersifat
setengah dalam suatu
lingkaran,namun cintaku
bagaikan " DIAMETER " yg bersifat
utuh dlm sbuah
lingkaran.
Cntaq juga bkan pula seperti
" SKALA " yg berarti suatu
pengukur,tapi melainkan
seperti bentuk " BOLA " yg tidak
dapat di ukur dan tak
terhingga.Puisi itu gue ambil di blog gue yang jadul.Sebenernya puisi itu udah lama gue buat,tapi baru tahun kemaren g…