Bukan MKKB

Hari ini berasa capek.
Syukur ajalah, karena masih di berikan kesempatan untuk menikmati semua ini.

" Kok bisa capek bang ? " ...

Jadi cerita singkatnya gini !!!

Mentari sudah biasa ku pecundangi, iya karena aku selalu lebih awal bangun dari dia. Hahaha,,, gak usah kepikiran kata-kataku yang itu ya...

Mandi udah, rambut tak terlalu aku pedulikan. Bukan karena aku gak sayang, karena masih ada yang lebih membutuhkan kasih sayangku.
Dia ponakan ku, namanya Rizki. Semalam dia begadang. Aku tahu itu tak baik untuk dirinya. Tapi aku bisa apa, 3 sinetron berhasil membuat dia melek kira-kira sampai jam 10 malam.

" halahhh...jam sepuluh  malam mah biasa bang... "

DAMPAKNYAAA.... hari ini si Rizki bangunnya kesiangan.
Pas aku bangunin,
" Ki, bangun udah waktunya sekolah ", Dia masih sekolah di tingkat TK.
Sedang ngelamun, dia bilang " Aku ngantuk om, gak mau sekolah ".
Mungkin kalian gak percaya, masa' anak kecil bisa ngomong seperti itu?.
Itu memang kenyataannya. Ponakan ku yang satu ini memang lumayan Super. Tapi bukan ANT MAN juga.

Udah aku bujuk, eh malah di cuekin.
Sambil ngusap dada, dalam hati bicara yaudahlah, namanya juga anak kecil, entar aku bangunin takutnya kurang tidur jadi sakit.

Perasaan agak gimana ....

Sekitar jam 8 an. Dia bangun, menghampiri ku yang lagi bantu-bantu bapak. Namanya juga anak kecil, ngajak main layangan yang dari kemarin sudah di buatin layangannya sama si bapak. Seperti maksa gitu !!!

Layaknya anak kecil yang lain, kalau lagi mau cokelat gak mau di kasih sate.

" Ngomong apa sih ... " .

" Kemarin di taruh di mana layangannya? ", sekilas tanyaku.
Dia langsung jalan setengah berlari menuju rumah. Aku mengikutinya dari belakang, sepertinya dia lupa menyimpan layangannya dimana. Dalam hati udah senang nih aku, " Horeeee,,, gak jadi panas-panasan " , seperti itu bunyi hati ku kala itu.

" Kemana, om layanganku? ",
" Kan kamu yang naruh kemarin ! ",
Mukanya mulai kusut, dia kebingungan. Kebetulan saat itu aku lihat ada mainan gangsing di dekat pintu.
" Ki, main ini aja yuk... ". Rayu ku agar dia mau move on dari yang namanya layangan.
Kelihatannya agak sulit buat dia main gangsing sebelum dia nemuin layangannya.

Piring kaca berwarna putih, adalah lapangan terbaik untuk bermain gangsing bagi anak desa. Gangsing yang ku pegang berwarna hijau, mulai ku putar gangsing ku di atas piring. " Tu kan, seru ... " , kataku. Sengaja aku kerasin suaraku agar dia mendengarnya.
Sepertinya Rizki mulai tertarik. Dia menghapiriku, seperti menonton gangsing yang ku putar.
" Mana om ambilin gangsing yang warna kuning ". Dia memang punya dua gangsing.

Akhirnya kami berduapun bermain gangsing.
Entah kenapa, gangsing yang ku pakai sering berhenti duluan muternya. Itu pertanda aku sering kalah. Dan setiap kali dia menang, dia selalu tertawa seolah ngeledekin gitu. Namanya juga anak kecil.

Sering kali ku dengar sebelum dia muterin gangsingnya dia ngeluarin jurus.
" Jurus boboiboy halilintarrrr...  Jurus tendangan si Madun... ", Dan masih banyak jurus-jurusnya yang lain yang sering dia pakai.

Entah sudah berapa jam kami bermain gangsing, mataku sudah mulai ngantuk.
Akhirnya aku punya jurus buat ngalahin dia. Sesekali ku pakai jurusku, " Jurus tidurrr ... ", itulah jurusku buat ngelawan si Rizki. Sambil rebahan, sesekali aku terlelap.
Kurang tahu apa yang ada dalam pikirannya. Tapi semenjak aku ngeluarin jurus itu, dia punya jurus baru.
" Jurus dudukkk... " , yang ku dengar seperti itu jurusnya. Entah aku lagi ngigo atau gimana.
Pertandingan di akhiri dengan suara Rizki yang sepertinya lagi ngambek, " Om, jangan tidur om. Yaudah aku gak mau main gangsing sama om ". Kurang lebih seperti itu yang ku dengar. Karena aku benar-benar ngantuk sampai ketiduran.

Lanjut cerita...

Kira-kira jam tiga sore, dia berhasil nemuin layangannya. Seperti maksa gitu !!! Dia mengajak ku untuk menaikkan layangannya. Ini lebih parah panasnya dari pada tadi pagi, dalam hati " Ya Tuhaannn....Kuatkan hambaMu ini " ...

Matahari seakan menertawakan ku. " Huahahaha... Makan nih panas. Angus angus deh ".

Karena angin saat itu memang benar-benar kencang, layangannya sesekali seperti mau patah di atas.
" Om om, gimana nih om " , Katanya sambil megangin tali layangan yang sudah ku naikkan layangannya.
Karena memang dia masih kecil, dia khawatir banget sama layangannya takut kenapa-kenapa. Jadi dia minta di temenin.

Di tengah-tengah gurun sahara kami mencoba bertahan menahan gersangnya keadaan.
Hingga kedua alis kanannya sampai mau menyatu dengan alis kirinya. 
Sesekali tangan mungilnya menjadi tudung bagi kedua matanya.
Kami bertahan, hanya untuk bahagia...

" Hahaha... Lebay  B G T kamu bang "

Sungguh melelahkan. Tapi bahagia juga bisa bermain bersama ponakanku.
Bukan berarti MKKB " Masa Kecil Kurang Bahagia " . Tapi, membuat orang yang berada di dekat ku bahagia, adalah suatu kebahagiaan juga bagi ku .

Dan akhirnyaaaaa....

Matahari sudah berada di peraduan, hingga diapun memintaku untuk menurunkan layangannya dan mengajakku pulang.
" HOOREEEEEE... "
Secepat mungkin aku turunkan, dan kami pun istirahat di tetepian teras rumah. Sambil memandangi senja.

Sungguh kebahagiaan yang sederhana !

Jadi gitu ceritanya...

Seperti ngantuk. Aku istirahat duluan, langsung ZzzzZ ....

Bukan MKKB Bukan MKKB Reviewed by Fauzi Achmad on September 14, 2015 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.