Toni Boncel #3 Cerpen Bersambung

Tawa kami tadi langsung berubah jadi satu penyesalan yang tak terkatakan. Begitulah orang-orang memandang gue. Di sekolah, bisa gue itung berapa banyak siswa-siswi yang benar-benar memanusiawi kan gue. Tapi gue gak gubris, entah karena udah terbiasa atau gue sendiri merasa letih untuk mengubris ketidaksempurnaan gue ini.

Gue, Rano dan Salma melanjutkan perjalanan ke sekolah dengan membisu. Kedua sahabat gue terlahir sebagai anak yang normal. Tinggi Rano 163 cm dengan berat badan sekitar 58 kg, sedangkan Salma memiliki tinggi 157 cm dan berat 60 kg, dia memang agak gemuk. Sedangkan gue? Tinggi gue 126 cm dan berat 34 kg. Gue memiliki kelainan fisik yang biasa disebut dwarfisme dimana organ tubuh gue tidak mengalami pertumbuhan seperti pada manusia normal lainnya.

Rano dan Salma adalah sedikit dari beberapa orang yang tidak memandang gue dengan sebelah mata. Walau gue baru kenal mereka di SMA ini, tapi mereka sama sekali tidak risih dengan apa yang terjadi didiri gue.

Tidak terasa kami sudah sampai di gerbang sekolah. Kepala gue seperti memakai topi dengan hiasan bandul seberat 50kg. Berat untuk melihat kedepan, berat menerima cibiran, berat membayangkan tekanan fisik dan psikis, berat untuk menerima cemoohan dari siswa-siswi normal lainnya.
Kami memasuki kelas dengan tetap membisu. Gue berusaha untuk tersenyum, tapi perasaan tidak enak kedua teman gue itu sepertinya lebih merajai. Kami bergerak, melihat dan bernapas seperti dimata-matai, kaku dan kelu.

“Maaf ya, No...maaf ya Sal” ujar gue memulai untuk mencairkan suasana beku begini.

“Lo apaan sih, Ton...udahlah...gue kan temen elo!” selak Salma

“Maaf ya, Ton, gue gak bisa bantu elo untuk sekedar membela lo atau apalah...yaa..tau dong kakak kelas kita mulutnya kayak apa. Iseng tingkat internasional!!!!” ucap Rano.

Guys, itulah sebabnya gue memilih untuk melakukan apapun sendirian. Sebab gue gak mau, orang disekitar gue mendengar apa yang seharusnya mereka gak dengar. Kata-kata ‘bogel’, ‘boncel’, ‘kate’, ‘Ucok Baba’ dan lain sebagainya itu hanya untuk gue, kalian salah memilih teman!!!” dada gue sesak. Gue pandangin Rano dan Salma. Mereka tertunduk.

Ya Tuhan, jangan biarkan air mata ini kembali jatuh seperti masa SD dan SMP lalu. Gue membatin.

Oh...sorry friend, gue terlalu mendramatisir keadaan. Turun yuk, sebentar lagi upacara.”

“86!!” jawab Rano

Kamsa hamnida, Toni...” (*
Lagi, gue dan Rano tatap-tatapan dan berkata,
“Kita tinggal yuk???”

Secara spontan kami langsung berlari.

“Ranoooo.....Toni!!!” teriak Salma.

Kami berlarian meninggalkan kelas. Langkah besar Rano membuat gue lelah untuk mengejarnya, gue lari dengan sekuat tenaga, sementara tawa-tawa kecil siswi terdengar jelas dikedua telinga gue. Mereka mentertawakan gaya konyol yang tercipta saat gue berlari.


***
Penulis : Edi Wijaya Rochman
***

Ada hal yang amat mengejutkan setelah kelanjutan cerita ini, ....Hmmm. Penasaran? Kita tunggu di bagian selanjutnya yang sekaligus bagian terakhir dari cerita ini ya.

Terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca Cerpen Bersambung Toni Boncel #3. Sampai jumpa...



Toni Boncel #3 Cerpen Bersambung Toni Boncel #3 Cerpen Bersambung Reviewed by Fauzi Achmad on December 06, 2019 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.