Skip to main content

Madura dan Kisah Lamanya

Mengenal atau mengenang cerita peninggalan leluhur adalah salah satu kewajiban para generasinya. Tidak ada salahnya bukan jika menuliskannya kembali untuk sekadar mengabadikan kisah lama yang sudah tak terjamah dan sebagai bentuk pelestarian.

Alhasil, berikut saya tulis ulang sejarah peradaban salah satu pulau yang ada di Indonesia.
Madura, pulau yang berada di seberang laut Jawa ini memang mempunyai banyak keunikan dan cerita-cerita yang menakjubkan.
Dikutip dari halaman Lontar Madura, konon pada jaman dahulu kala di tanah Jawa ada sebuah kerajaan bernama Medang Kemulan, Prabu Sang Hyang Tunggal adalah  pemegang pemerintahan pada kala itu. Dyah Cendrawati merupakan putri dari Raja tersebut, dia sangat cantik jelita, tak heran jika pada saat itu dia menjadi idaman banyak Raja dan Pangeran-pangeran di tanah Jawa.

Saat itu, Putri tersebut belum bisa memantapkan hati untuk membina rumah tangga. Ia selalu menolak setiap lamaran yang datang, dan ia masih ingin hidup membujang. Pada suatu ketíka Dyah Cendrawati ternyata hamil sebelum disentuh oleh laki-laki siapapun, konon katanya sang Putri ini bermimpi bahwa ada Bulan yang masuk kedalam dirinya melalui mulutnya, namun Ayah dari dari Putri tersebut tidak mau tahu akan hal itu. Dan Sang Raja sangat murka serta memerintahkan Patihnya yang bernama Pranggulang untuk membunuh putrinya di tengah hutan.
Pranggulangpun berangkat membawa Putri kerajaan itu ke tengah hutan. Setelah melakukan perjalanan selama berhari-hari, tibalah di suatu tempat yang jauh dari jangkauan orang-orang, sesuai dengan titah raja, maka Patih Pranggulang menghunus kerisnya dan ditikamkan ke tubuh sang Putri. Ternyata keris itu tak mampu menusuk sang Putri yang sedang mengandung itu, sekalipun telah dilakukan berulang-ulang. Pada saat itu, Patih Pranggulang pun menyadari bahwa sang Putri ini benar-benar tidak melakukan kesalahan seperti apa yang telah dituduhkan kepadanya.

Patíh Pranggulang yang kemudian membawa Sang Putri ke arah utara menuju pinggir pantai. Sesampainya di pinggir pantai lalu Patih Pranggulang membuatkan giték (rakit) untuk Sang Putri, dan Sang Putri disuruh menaikìnya serta dídorong menuju ke tengah laut dan diarahkan ke utara, seraya dipesan bila kelak Sang Putri memerlukan bantuannya diminta menginjak kakinya ke tanah tiga kali dan menyebut nama Pranggulang. Dan gitékpun dihanyutkan ke arah utara menuju sebuah pulau yang tidak berpenghuni. Namun selama berlayar dan berada ditengah laut, Sang Putri akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki dengan selamat.



Bayi tersebut terlihat sangat rupawan, dan kemudian diberi nama Joko Segoro atau yang dikenal dengan Raden Segoro. Dyah Cendrawati yang kemudian dikenal dengan nama Bendoro Gung bersama putranya bernama Raden Segoro menetap di pulau sepi dan tak berpenghuni tersebut di wilayah pantai utara dan terdapat tumbuh pohon nipah (sejenis palem (palma) yang tumbuh di lingkungan hutan bakau)  dan dihuni banyak kera, –  dan selanjutnya dikenal nama Népah atau Desa Népah masuk Kecamatan Ketapang kabupaten Sampang, Madura. Sedangkan Patih Pranggulang selalu datang menyambangi dan memberikan bantuan bilamana dibutuhkan, dan dengan nama samaran Ké Poléng, karena selalu berpakaìan hitam komprang dan kaos putih bergarís merah tebal dengan pakai sabuk épék (ikat ikat pinggang yang lebar).

Lama kelamaan karena pulau tersebut terlihat sudah ada penghuninya. maka banyak para nelayan dari Bugis, Mandar, Banjar singgah yang kemudian mengajak keluarganya menetap di pulau tersebut. Sehingga pulau yang tadinya kosong kini telah berpenghuni. Pulau yang awal didatangi Dyah Cendrawati  dan putranya itu, selanjutnya pulau tersebut diberi nama Madu Oro atau ada yang mengatakan Lemah Duro, maksudnya karena Patih Pranggulang membangkang pada titah Raja, disuruh membunuh putrinya tersebut diberi nama Madura. (Abdurahrnan; 1971). Berangkat dañ legenda tersebut secara turun temurun masyarakat setempat meyakini awal terjadinya pulau Madura, maka orang Sumenep pun menghadapkan bangunan rumahnya ke arah selatan, mengingat cikal bakal Ieluhurnya datang dari arah selatan.

Kurang lebih seperti itu kisah tentang terbentuknya pulau Madura, dalam tulisan Tadjul Arifin R/Syaf Anton Wr dengan judul "Kisah Bendoro Gung dan Raden Segoro" di situs Lontar Madura. Sebagai salah satu bentuk mengenang para leluhur lama, semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua.

Terimakasih untuk yang sudah membaca, jumpa di tulisan selanjutnya.

Comments

Popular posts from this blog

Puisi Buat Mantan Gebetan Terindah

Bicara tentang masa lalu,gue ingat pada waktu gue masih nge-gebet cewek antagonis di masa Putih biru-biru.Gue sempet bikin puisi buat dia,saat gue baca sempet gue mikir "ternyata dulu gue puitis banget" .Nih puisi gue buat gebetan gue di masa Putih biru-biru > Cinta atau matematika Di posting oleh Fauzi Achmad pada 02:13 AM, 06-Jun-13 Cintaku padamu bagaikan " PI " dalam sebuah rumus matematika yang berarti suatu ketetapan,tapi cintaku padamu tidaklah seperti " GRADIEN " yang berarti kemiringan suatu garis. Cintaku bukan pula seperti " JARI - JARI " yang bersifat setengah dalam suatu lingkaran,namun cintaku bagaikan " DIAMETER " yg bersifat utuh dlm sbuah lingkaran. Cntaq juga bkan pula seperti " SKALA " yg berarti suatu pengukur,tapi melainkan seperti bentuk " BOLA " yg tidak dapat di ukur dan tak terhingga. Puisi itu gue ambil di blog gue yang jadul.Sebenernya puisi itu udah lama gue buat,

Belajar Budaya "Karapan Sapi Madura"

Bicara tentang Indonesia, dengan berjuta kekayaan alam dan juga budayanya, ras dan suku bangsa yang beraneka ragam, tak cukup hanya hitungan jam untuk menceritakan betapa elok dan melimpahnya harta Indonesia.  Membahas soal Indonesia, memang tak ada habisnya. Sekitar 17.504 pulau yang dimilikinya, dan bermacam budaya juga tradisi yang terbilang kaya dan masih lestari hingga hari ini. Indonesia memang sangat asyik untuk diulik, apalagi tentang budayanya. Di postingan kali ini, kita akan belajar dan mengenal salah satu budaya yang ada di Indonesia bagian timur. Sudah ada yang pernah tahu tentang Karapan Sapi?   Tradisi yang hanya dimiliki oleh orang-orang Madura dan masih terlestarikan sampai hari ini. Yuk kita mengulik sedikit tentang Karapan Sapi bersama Ketua Dewan Kesehatan Rakyat (DKR), Bangkalan, yang akrab di sapa Muhyi.  Karapan Sapi itu apasih? Karapan Sapi adalah perlombaan pacuan sapi, dimana biasanya sapi di adu sebagaimana balapan lari. Dengan satu joki yang menu

Basecamp Caffe, Idolanya Tempat Tongkrongan Di Ciputat

Temen-temen Mahasiswa Uin Jakarta, atau temen-temen yang tinggal di sekitaran Ciputat dan suka nongkrong pasti tau nih tempat ngopi dan ngobrol yang satu ini. Suasana di tempat ini memang nyaman. Meski atapnya terbilang begitu dekat ke kepala, namun nuansa yang seperti ini cukup mengingatkan para pengunjung (terutama saya) agar selalu merasa rendah (hati). Sempat meliburkan jam operasi beberapa bulan lamanya, Basecamp Cafe baru-baru ini kembali beroperasi dan tak kehilangan citranya sebagai salah satu Cafe yang terbilang ramai di area Ciputat ini. Jam buka tempat tongkrongan ini dimulai dari 09:00 sampai jam 03:00 wib setiiap hari Kamis-Rabu. Untuk menu di tempat ini sudah bisa dikategorikan dalam kata 'lengkap', Ada makanan berat untuk mengenyagkan perut, Nasi Goreng dan beberapa makanan lainnya. Buat yang sekadar mau nyemil, tersedia pisang cokelat, kentang goreng, dan makanan ringan lainnya. Soal Kopi-kopian, di tempat ini sudah disediakan