Januari, Februari, Pandemi...

Januari, Februari, Pandemi... kisah yang terbilang singkat bagi saya sebagai seorang pelajar yang diharuskan pulang ke kampung halaman. Wabah corona adalah faktor utama penyebab menipisnya kantong dan juga penekanan-penenakan hidup di kota rantau.

Januari, Februari, Pandemi... Kampung halaman bukanlah hal buruk bagi setiap kepulangan, bagi para perantau terutama seperti saya yang belum 'dirasa' berhasil ini. Ketika cita harus ditunda dulu pengejarannya, bukan berarti langkah harus mundur dan terdiam saja. 

Januari, Februari, Pandemi... Rindu adalah salah satu hal yang mungkin puas merasakan moment ini. Ia terpenuhi hasratnya, untuk bertemu juga berdekap hangat dengan muaranya. Keluarga! Betul... 
Hari ini memang tak bisa sekencang 'kemarin' larinya. Kaki tertahan oleh keadaan yang mengharuskan di rumah saja. Meski tak sedikit orang yang paham bahwa untuk melanjutkan hidup yang dibutuhkan adalah income baik dari alam juga pekerjaan. 

Januari, Februari, Pandemi... Sesingkat itu! Saya menuliskan penanggalan bulan di kalender, aksaranya, namun tidak dengan kenangannya. Perjuangannya yang panjang akan terus terngiang senanti-nantinya. 

Januari, Februari, Pandemi... Itu membawa saya pada rumah yang selalu nano-nano rasanya. Canda, tengkar, riang, khawatir, ada semua! Mengambil alih kesibukan duniawi yang selalu saya kejar kemarin-kemarin. 

Januari, Februari, Pandemi... Mengantarkan jiwa pada masa sebelum Tik-tok memperlihatkan keseruan dunia dari segi yang berbeda dari sebelumnya. Menggiring untuk mengingat dan mengenang setiap unsur hidup yang 'dulu' pernah saya jamak. 

Januari, Februari, Pandemi... Membuat saya berhasil meracik opini, bahwa sekalipun teknologi tak akan pernah mundur, tapi saya yakin bahwa setiap masa masih bisa terulang kembali.

Picture : Kerupuk Dedot. Lambang Lawas
Januari, Februari, Pandemi... Januari, Februari, Pandemi... Reviewed by Fauzi Achmad on December 20, 2020 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.